Motoran Jogja – Surabaya (Bagian 2)

Jam 10 teng saya melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Di Plang penunjuk arah saya melihat angka Surabaya 32 km lagi. Alhamdulillah….karena sehari sebelumnya saya melihat Surabaya masih 200 sekian km.

C360_2015-08-25-10-34-00-986 copyPerjalanan yang menyenangkan karena yang terlihat adalah hamparan hijaunya sawah dan orang jualan. Menjelang masuk surabaya mulai spaneng karena ketemu truk yang gede-gede. Mungkin ada yang panjangnya 10 meter. Saya yang naik motor bebek ini jadi merasa aku mah apa atuh.

Tidak banyak tempat yang saya kunjungi di Surabaya. Paling lama di Masjid Cheng Hoo. Ngomong-ngomong ini salah satu masjd favorit saya karena tempatnya bersih, bisa numpang tidur2an, dekat sama Stasiun Gubeng, dan transport kesini gampang.

C360_2015-08-25-16-23-34-633Markir motor di Cheng Hoo

Lalu abis itu nyampe Tambaksari:

C360_2015-08-25-16-38-25-898Udah kelihatan kayak di Surabaya belum? :D

Ngapain ke Tambaksari? Lah…nggak tau, tau-tau juga udah nyampe situ. Ini kali kedua saya nyetir motor di jalanan Surabaya. Saya punya cerita sendiri tentang nyetir motor di sini sekaligus nyasar-nyasarnya. Pernah tahun kemaren saya motoran dari Bonbin mau ke Grand City. Saya lihat di peta. Oke tinggal ke utara aja kan nanti belok ke timur. Lama saya motoran ke arah utara. Kok nggak nyampe-nyampe ya….malah jalannya jadi sepi. Akhirnya saya menepi tanya orang.

“Pak Grand City kemana ya?” tanya saya

“Ke sana, jauhh” dari nada bicaranya menunjukkan kalo Grand City itu jauh banget.

“Kalo Bonbin?” tanya saya lagi

“Lha situ” bapaknya nunjuk arah yang deket, kayak cuma beberapa meter aja. Dan benar saja, ternyata saya motoran dari Bonbin balik ke Bonbin lagi.

Di motoran kali ini saya baru ngeh kalo pola jalan di Surabaya, tidak lurus utara selatan. Pola jalannya melengkung mengikuti pola sungai. Terutama jalan-jalan sekitaran Kalimas dan sebelah barat Kalimas. Saya tidak bisa mengandalkan arah utara selatan sebagai penunjuk jalan.

Di Jogja jalan-jalannya tegak lurus utara-selatan, barat-timur. Kalaupun melengkung, biasanya akan kembali ke pola lurus utara-selatan. Orang Jogja untuk menunjukkan arah biasa mengatakan “Ke barat mbak” atau “Ke utara terus nanti belok ke Timur”. Jarang mengatakan kanan-kiri. Dan karena saya tinggal di Jogja otomatis pola pikir saya juga utara-selatan, barat-timur. Di Surabaya saya harus mengubah mindset saya tentang cara berpikir utara selatan. Karena kalau tetap berpikir begitu pasti akan nyasar & disorientasi arah. Saya merasa ke utara padahal jalannya mulai berbelok ke barat. Ada persimpangan ke kiri yang saya pikir ke Barat, bisa jadi sebenarnya adalah ke Selatan. Kecuali di Surabaya Timur mungkin pola pikir utara selatan bisa diterapkan.

Perjalanan Jogja Surabaya sekitar 320 km lebih sudah terlewati. Beberapa komentar teman:

Screenshot_2015-08-25-18-26-15

Hehe… :D Dulu pas teman saya motoran dari Surabaya ke Jogja reaksi saya juga sama: Gilee…..Jauhnyaa. Tapi setelah saya jalani sendiri, rasanya biasa aja kok. Bukan sesuatu yang wow. Maksudnya nggak ekstrim2 amat. Lebih ekstrim naik gunung sebenernya. Jauh iya. Capek iya. Tapi masih standard. Jalurnya enak, wajar dan semua orang juga bisa kalau mau.

Mungkin bener kata Olly, jalannya memang biasa. Tapi yg wow adalah tenaga dan pikiran ekstra, juga tekad dan keinginan yang kuat. Yang jelas saya sih udah nggak penasaran lagi :D

Setelah saya pikir2 perjalanan saya dari Jogja ke Surabaya nggak akan tercapai kalau sebelumnya saya nggak motoran bolak balik Jogja Solo, atau Jogja Semarang. Perjalanan-perjalanan kecil itu mengantarkan pada perjalanan panjang. Jalur yang sepi lewat hutan-hutan juga cukup menolong karena nggak merasa capek. Beda rasanya ketika perjalanan melewati kota, lebih kerasa capeknya karena otak terus berpikir untuk menyeimbangkan laju. Total perjalanan 12 jam dengan istirahat (ishoma) sekitar 2 jam, yang kata temenku “Lama itu…” Ya iyalaah….orang jalannya santai, ngebut seperlunya aja :D Yang jelas saya sungguh menikmati perjalanannya.

Malam harinya saya menyempatkan diri ke Masjid Al Akbar, sebelum bermalam di Gresik.

C360_2015-08-25-20-47-15-704

Dengan mengunjungi Masjid Al Akbar, kesampaian juga keinginan saya untuk berkunjung ke 3 masjid di Surabaya: Masjid Ampel, Masjid Cheng Hoo, dan Masjid Al Akbar. Masjid Ampel dan Masjid Cheng Hoo sudah saya kunjungi tahun 2014 silam. Dan Masjid Al Akbar saya kunjungi tahun 2015.

Bersambung ke Motoran Jogja – Surabaya (Bagian 3)

Posted by Heni Murhanayanti on 01 September 2015
Categories:
Travelling | Leave a comment

Tinggalkan Jejak Anda...

Bagian yang berbintang musti diisi *