Proses Menulis ala Ahmad Fuadi

Selesai Pinasthika 2013 seorang sahabatku bertanya, “Dari sekian pembicara itu, mana yang kamu paling suka?”

Spontan kujawab “Ahmad Fuadi”

“Kenapa?” tanyanya lagi

“Rasanya materinya yg paling dekat sama aku” jawabku.

Di tulisan ini saya mau share proses menulis ala Ahmad Fuadi yg saya dapatkan di Pinasthika 2013.

Pinasthika2013The Power of Writing

The power of writing itu luar biasa. Kekuatan tulisan itu bisa lebih kuat daripada senjata. Misal ada seseorang yang membawa senjata lalu menembakkan senjata tersebut kepada seseorang dan kena kepalanya. Orang yang kena kepalanya kira kira bagaimana? Mati atau paling tidak cacat. Peluru yang ditembakkan di kepala kira-kira tertinggal dimana? Kira-kira tertinggal di kepala orang itu. Itu adalah peluru.

Continue Reading

Pengabdian dan Keikhlasan

Saat nonton Film Negeri 5 Menara saya tertegun pada saat adegan Alif mewawancarai Kyai Rais:

“Kyai apakah benar guru-guru disini tidak digaji?”

“Benar. Guru-guru disini tidak digaji, mereka mengajar dengan keikhlasan dan bertujuan semata-mata pengabdian kepada Allah SWT.”

“Jangan mencari hidup dari pondok madani, tetapi hidupilah Pondok Madani”

(kurang lebih begitu dialognya)

Para Ustadz di Pondok Madani: Mengajar dengan Keikhlasan
Para Ustadz di Pondok Madani: Mengajar dengan Keikhlasan

 

Kemudian saya teringat waktu mengikuti Pesta Wirausaha TDA di Jakarta Bulan Januari 2012 kemaren. Di forum itu Pak Badroni Yuzirman, founder TDA mengatakan bahwa,

“TDA ini bisa menjadi sebuah komunitas besar semata-mata karena keikhlasan para pengurusnya. Para pengurus TDA sama sekali tidak dibayar. Hanya keikhlasan.”

Komunitas TDA, besar karena keikhlasan pengurusnya
Komunitas TDA, besar karena keikhlasan pengurusnya

***

Lalu saya ingat renungan saya tentang politik dan kekuasaan.

Saya berpikir, bahwa seharusnya POLITIK dan KEKUASAAN tidak boleh dijadikan profesi. Entah itu di level Ketua RT, RW, Kepala Desa sampai ke Anggota Dewan yang Terhormat. Akan sangat berbahaya apabila seseorang mendapatkan nafkah/penghasilan dari kekuasaan. Kenapa? Lha iya pemilu kan cuma 5 tahun sekali. Ya kalau kepilih lagi, kalau nggak? Maka hilanglah sumber penghasilan dari para pemilik kekuasaan tersebut.

Jika seseorang sampai mencari nafkah dari kekuasaan, maka dia akan mencari cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Simpel saja logikanya: orang nggak mau kan kehilangan sumber pendapatannya. Bukan itu saja: Orang juga tak mau kehilangan zona nyamannya!

Saya lebih setuju apabila POLITIK dan KEKUASAAN adalah sebagai alat PENGABDIAN. Maka Tidak perlu ada gaji.

“Loh…lalu gimana donk dengan hidup mereka?”

Saya lebih setuju apabila seseorang yang menjadi Anggota Dewan adalah orang yang telah mencapai kebebasan financial. Adalah ketika dia sudah tidak tergoda dengan HARTA. Jadi bukan uang atau penghasilan lagi yang mereka cari, tetapi semata-mata Pengabdian kepada Masyarakat, terlebih lagi Pengabdian Kepada Allah SWT.

Jadi Anggota Dewan tanpa DIGAJI, Hayoo…berani nggak?

Image ustadz pondok madani minjem dari: http://www.kawankumagz.com/read/negeri-5- menara-melukis-mimpi-bersama-sahabat

Continue Reading