I’tikaf Ramadhan 1437 H

I’tikaf di penghujung ramadhan 1437 H kali ini menjadi pengalaman i’tikaf yang indah dan tak terlupakan. Dan berharap bisa i’tikaf lagi di ramadhan tahun depan dengan kualitas yg lebih baik. Aamiin.

Maskam UGM

Berawal dari tahun kemaren, saya hanya bisa i’tikaf 3 malam aja, saya merasa rada gelo. Kok cuma bisa i’tikaf 3 malam ya… dan bertekad semoga di ramadhan kali ini bisa beri’tikaf lebih baik lagi bukan cuma kuantitas, tapi juga secara kualitas.

Kalau untuk Tarawih saya paling cocok di Masjid Gedhe Kauman, maka untuk i’tikaf saya paling cocok di Masjid Kampus UGM. Saya merasa suasananya khusyu’ dan sunyi. Disini saya bisa memandang langit, melihat pohon-pohon dan merasakan hembusan angin. Selepas subuh saya bisa duduk di kolam atau gerbangnya untuk menikmati semburat fajar yang perlahan menjadi terang. Untuk orang yang menyukai alam, saya lebih mudah tersentuh dengan hal-hal seperti ini. Maskam tempatnya juga luass, jadi walaupun banyak orang nggak terasa sesak. Selain itu untuk sahur disediakan oleh panitia. Note: untuk i’tikaf selama 10 hari kita cuma bayar Rp 50.000,- kalau mau ikut per malam tinggal bayar Rp 5.000,- (mana ada masjid yang lebih kerakyatan dari ini? hoho…) Sebetulnya saya pengen nyobain i’tikaf di Masjid Nurul Ashri Deresan. Tapi sampai akhir ramadhan ternyata sudah pewe di Maskam, hehe..

Continue Reading

Takjil Gulai Kambing Masjid Gedhe Kauman

Tiap hari kamis di bulan ramadhan, takjil di Masjid Gedhe Kauman cukup istimewa, yaitu gulai kambing. Tradisi ini konon sudah berusia puluhan tahun, sejak Sri Sultan Hamengkubuwono VIII.

Hari kamis kedua  ramadhan tahun ini saya ikut takjilan di masjid gedhe. Bukan karena gulainya sih, tapi seneng aja dengan acara unik seperti ini. Seperti yang diduga, suasana ramai banget. Jam 16.30 masyarakat mulai berbondong-bondong mendatangi serambi masjid. Mulai dari anak kuliahan sampai bapak tukang becak, laki-laki perempuan, tua muda tumplek blek di masjid. Sembari menunggu bedug magrib, ada penceramah yang memberikan wejangan.

Takjil Masjid Gedhe

Sambil mendengarkan penceramah, saya jadi teringat tradisi sekaten yang digagas oleh Wali Songo. Pada jaman dahulu Sunan Kalijogo menabuh gamelan di alun-alun untuk menarik masyarakat agar datang. Tiket masuknya….tentu saja kalimat syahadat, “asyhadu an laa ilaaha ilallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah” Itulah sebabnya simbah-simbah kita masuk islam. Wali Songo menggunakan sekaten ini sebagai sarana untuk memperkenalkan agama islam.

Saya rasa tidak jauh berbeda ketika saya melihat antusias masyarakat yang berbondong-bondong ke masjid gedhe. Dakwah bukan sekedar ceramah. Dakwah lewat kuliner, so why not? Saya jadi ingat ada beberapa masjid di Jogja yang menyediakan menu cukup mewah untuk berbuka puasa. Dan para pemburu takjil begitu antusias mendatangi masjid-masjid tersebut.

Continue Reading