Sydney, Kota Pelabuhan yang Cantik

Yeayy! Akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki

di Australia!”

Senang rasanya akhirnya saya bisa ke Australia. Saya berangkat ke Sydney akhir Agustus dalam rangka menghadiri undangan meet up dari salah satu raksasa teknologi.
Bagi saya Sydney adalah kota yang menyenangkan. Seminggu di Sydney berasa sebentar banget. Semoga lain waktu bisa ke sana lagi dan menjelajahi kota lain di Australia.

Membuat Visa Australia

Bagi warga negara Indonesia yang akan pergi ke Australia harus membuat visa terlebih dahulu. Visa ini ada bermacam-macam jenisnya. Jika tujuan kesana untuk berlibur, maka jenis visa yang diperlukan adalah Visitor Class-Tourist Stream. Kalau tujuan untuk menghadiri konferensi atau seminar maka jenis visanya adalah Visitor Class-Business Stream.

Karena saya tinggal di Jogja, maka apply visa dilakukan dengan cara online. Persiapan untuk apply visa dimulai 3 bulan sebelumnya untuk mempersiapkan dokumen dan rekening bank. Pengalaman apply visa dan dokumen yang diperlukan sudah saya tulis disini:

Visa australia ini tidak ditempel di passpor, tetapi dikirim lewat email berbentuk file pdf. Visa tersebut sudah langsung terhubung dengan imigrasi Australia. Sebaiknya tetap diprint out karena biasanya maskapai penerbangan akan meminta kita untuk menunjukkan visa.

Berangkat ke Sydney

Rute penerbangan saya adalah Yogyakarta – Denpasar – Sydney, connecting flight dengan menggunakan Garuda Indonesia. Saya berangkat dari rumah jam 13.30 dan sampai di Bandara Adisucipto jam 14.30. Sesampainya di counter check in GIA, saya melihat antriannya sudah mengular. Untung saja saya nggak mepet-mepet berangkatnya, jadi masih bisa santai walau antrian panjang 😀

Pesawat take off jam 16.20 WIB dan sampai Denpasar jam 18.40 WITA. Saya transit di Ngurah Rai kurang lebih 5 jam. Disini transfer dari domestik airport ke international airport lalu cap passpor di imigrasi.

Tansit di Ngurah Rai, masih suasana HUT RI

Jam 23.40 WIB pesawat berangkat dan sampai di bandara Kingsforth Smith Sydney jam 07.25 AEST. Sebelum turun dari pesawat kita akan diberi incoming passenger card yang harus diisi dan nanti diserahkan ke imigrasi dan customs. Jika membawa makanan atau obat-obatan sebaiknya declare di form karena kalau ketahuan membawa makanan tapi tidak mengaku bisa didenda. Saya sendiri tidak membawa makanan jadi setelah melewati imigrasi tidak terlalu lama cek barang bawaan di customs.

Transportasi di Sydney

Sydney terutama CBD nya (central business district) sebetulnya adalah kota kecil. Bahkan kita bisa jalan kaki untuk mengunjungi tempat-tempat wisata dalam kota. Transportasi disini sangat mudah, ada berbagai macam transportasi yang bisa dipilih. Semua pembayaran menggunakan Opal Card. Saya merekomendasikan untuk membeli kartu ini. Kartunya gratis, kita cukup membayar sesuai nominal uang yang akan diisi.

Opal Card

Kartu ini bisa dibeli di airport atau minimarket dan bisa diisi ulang. Saya membeli kartu ini di Harbourside, semacam mall di Darling Harbour. Hampir di semua stasiun menyediakan mesin mesin top up. Kita bisa mengisi menggunakan kartu kredit atau cash. Opal card ada juga yang single fare atau untuk satu kali perjalanan, tetapi tarifnya lebih mahal.

Aplikasi yang perlu diinstall adalah Google Maps dan Opal Travel. Dengan app opal travel kita bisa cek saldo dan melihat history transaksi. Kalau hari minggu tarif opal ini hanya AU$2,5 ke manapun. Asyik kan? Jika dalam seminggu sudah mencapai 8 kali perjalanan, maka tarif selanjutnya akan dikenakan setengah harga. Tarif termahal adalah dari airport ke kota dan dari kota ke airport, karena dikelola oleh swasta. Masa berlaku opal card ini cukup lama yaitu 9 tahun, jadi cukup worthed. Kalau besok mau Sydney lagi kartu ini masih bisa dipakai.

Google maps sangat berguna untuk mengetahui letak stasiun, perberhentian bis dan ferry. Aktifkan terlebih dahulu detail peta transportasi umum, lalu akan terlihat letak stasiun sekaligus rutenya. Stasiun Kereta (Train) simbolnya huruf T warna kuning, Stasiun LRT simbolnya L warna merah, Dermaga Ferry simbolnya huruf F warna hijau dan Halte Bus simbolnya gambar bis warna biru muda.

Transportasi di Sydney mudah dipahami. Petunjuk tertera jelas dimana-mana. Beberapa sarana transportasi di Sydney:

  • Train. Stasiun kereta tersebar di berbagai tempat. Stasiun terbesar adalah Central Station. Stasiun ini sudah berusia sekitar 170 tahun. Disini berkumpul berbagai platform dengan berbagai rute. Ada papan informasi yang besar sebagai petunjuk. Cara membacanya: cari dulu tujuannya mau kemana, lalu lihat platformnya. Misal saya mau ke Bondi Jn Station maka saya harus ke platform 24. Rute yg akan dilewati adalah Town Hall – Martin Place – King Cross Edgecliff – Bondi Jn. Kereta akan datang dalam waktu 6 menit. Setelah ketemu informasinya lalu cari lokasi platformnya.
Papan informasi di Stasiun Central (klik untuk memperbesar)

Stasiun yang sering saya gunakan adalah Stasiun Museum, karena dekat hotel sih. Selain itu juga lebih simple, karena hanya ada 2 platform. Saya tidak terlalu pusing mencari platformnya. Saat pulang menuju airport saya juga lewat stasiun ini. Stasiun kereta di Sydney rata-rata ada di bawah tanah. Museum stasiun ini dari luar tampak seperti bangunan biasa. Tarif train tergantung jarak yang ditempuh.

  • LRT (Sydney Light Rain). Orang Sydney menyebut LRT ini Tram. Mereka akan bingung kalo kamu menyebut LRT. Untuk area CBD tram beroperasi di area darling harbour – fish market. Kita bisa menggunakan tram kalau mau ke paddys market, chinatown, darling harbour dan fish market. Kemungkinan ke depannya tram ini akan hadir melewati Town Hall, karena saat saya kesana sedang dibangun jalurnya. Tarif tram ini lebih murah daripada train (walau tetap tergantung jarak tempuh). Waktu tunggu baik train atau tram tidak lama, paling sekitar 3-5 menit. Kecuali saat malam hari, saya pernah menunggu sampai 15 menit dari Convention ke Central.

Sydney Light Rail, nyaman naik ini.

Ferry. Ferry disini juga berfungsi sebagai transportasi umum, bukan sekedar untuk wisata. Maklum Sydney merupakan kota teluk. Bahkan dalam jarak dekatpun bisa pakai ferry. Dermaga yg paling ramai adalah Circular Quay, yang dekat dengan Sydney Opera House. Dari sini bisa naik ferry ke Darling Harbour atau Manly. Nanti kamu bisa berfoto dengan background Harbour Bridge atau Sydney Opera House.

Bus. Saya tidak mencoba bus saat di Sydney. Beberapa traveller menyarankan menggunakan bus untuk menghemat biaya ke dari airport. Dan memang lumayan sih, kita bisa menghemat sekitar AU$15 daripada menggunakan train.

Maxi Cab. Maxi ini sejenis taksi tapi untuk orang banyak. Bisa digunakan sampai 8 orang. Saya menggunakan dari Novotel ke Sydney Opera House. Waktu itu hujan deras dan kita pengen banget kesana. Pesannya lewat lobby hotel. Tarif dari Novotel ke Opera House sekitar AU$10.

Tarif Maxi Cab
  • Uber. Layanan ini mahal banget, tapi akan memang lebih praktis untuk banyak orang, misalnya keluarga, terutama untuk perjalanan dari/ke airport. Kemaren ada teman yang pakai uber dari CBD ke Airport habis 600 rb.

Transportasi yang sering saya gunakan adalah Train dan Tram. Apalagi waktu itu Sydney sedang memasuki akhir winter dan cuaca hujan terus, saya tidak sempat jalan kaki di luar. Jika bingung, jangan ragu-ragu untuk bertanya. Orang Sydney ramah-ramah dan helpful. Beberapa kali saya bertanya ke orang lokal. Bahkan pernah waktu itu saya mau ke airport. Subuh-subuh berjalan sendiri dari hotel ke Museum Station. Sampai di stasiun saya turun lewat lift. Alamak!! ternyata liftnya cuma satu lantai. Setelah tap on saya menggangkat koper menuruni tangga. Baru beberapa langkah “wait…wait…” ada mas2 bule yang bantu mengangkat koper sampai bawah. Duh makasih banyakk mas!

Sebagai turis sebaiknya kita mematuhi rambu-rambu dan peraturan setempat. Seperti jangan menyeberang sembarangan. Menyeberanglah di tempat penyeberangan saat lampu pejalan sudah berwarna hijau. Pernah malam hari saya akan menyeberang di dekat central station. Lampu pejalan masih berwarna merah. Lalu ada seorang wanita nekat menyeberang. Jalanan memang sepi sih. Tiba2 saja muncul pengendara sepeda motor. Upss…..nyaris aja ketabrak, untungnya nggak. Jadi patuhi rambu-rambu lalu lintas, menyeberang di tempatnya saat lampu berwarna hijau.

Tempat Wisata di Sydney

Banyak tempat menarik di Sydney baik yang berbayar ataupun gratis. Tempat wajib tentu saja Sydney Opera House. Saya list tempat-tempat menarik di Sydney.

  • Sydney Opera House. Ini adalah iconnya Sydney, turis wajib kesini. Untuk mengunjungi Sydney Opera House kita bisa naik train lalu turun di stasiun Circular Quay. Ini stasiun favorite saya, karena dari dalam kereta sekalipun kita bisa melihat ferry-ferry yang ngetem disana. Sydney Opera House ini dekat dengan Sydney Harbour Bridge, sebuah jembatan yang menghubungkan antara Sydney CBD dan North Sydney. Di sekitar tempat ini ada banyak restoran dan toko souvenir. Harganya lebih mahal tentu saja. Saking mudahnya transportasi disini, saya sampai mengunjungi Sydney Opera House sebanyak 3 kali.
Sydney Harbour Bridge
  • The Rock. Ini adalah sisi berseberangan dari Sydney Opera House. Dari Opera House tinggal jalan kaki melewati Circular Quay lalu belok ke kanan sudah sampai The Rock. The rock ini semacam kota tuanya Sydney. Oya disini ada restoran terkenal namanya “Pancake on The Rocks” yang menjual pizza dan pancake.
The Rocks
  • Town Hall. Town hall ini sebutan untuk balai kota. Gedung ini berlokasi di George Street, di samping St Andrew’s Catedral dan seberang Queen Victoria Building (QVB).
  • Queen Victoria Building. Jika kita naik train lalu turun di Town Hall station nanti ada pilihan untuk keluar di dalam QVB. Kita tinggal naik aja untuk eksplore ke lantai atas. QVB ini adalah mall yang sangat eksklusive. Brand-brand ternama dunia mempunyai outlet disini. Bangunannya sangat indah, di lantai atas ada stradt arcade, yaitu jalanan dengan lantai keramik yang indah. Di lantai paling atas ada jam yang menunjukkan tanggal saat ini.
Inside Queen Victoria Building
  • Paddys Market. Kita sebagai orang Indonesia yang punya banyak teman dan saudara yang sering minta oleh-oleh wajib datang kesini. To be honest, pengeluaran terbesar saya di Sydney bukan transportasi atau akomodasi, tetapi oleh-oleh! Di Paddys Market ini kita bisa mendapatkan oleh-oleh semacam magnet kulkas, dompet dan pernak pernik ala Sydney dengan harga yang ramah kantong. Malah di beberapa kios pegawainya orang Indonesia. Saya belanja di salah satu kios dan pegawainya orang Pekalongan. Oya harga barang disini juga bisa ditawar. Pinter-pinternya kita ajalah 😀 Paddys market ini buka hari rabu – minggu jam 10 AM-6 PM. Hari senin dan selasa tutup.
Paddys Market
  • Darling Harbour. Saya bersyukur menginap di Novotel Sydney yang dekat sekali dengan Darling Harbour. Hanya tinggal menyeberang ke Harbourside sudah dampai di Darling Harbour. Tempat ini sangat menawan, baik siang maupun malam hari. Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi seperti Sea Life Sydney Aquarium, Madame Tussauds, Wiildlife Sydney Zoo, Children’s Playground, Cockle Bay Wharf dan Australian National Maritime Museum. Kalau terus berjalan ke arah barat laut akan sampai ke Pyrmont Bay. Tempat ini masih area Darling Harbour. Suasananya tenang dan bersih. Enak rasanya sore-sore duduk santai di sekitaran Australia National Maritime Museum.
Pyrmont Bay
  • Fish Market. Saya juga mengunjungi Sydney Fish Market. Sayangnya saat sampai disana sudah tutup 🙁 Nah buat teman-teman yang mau mengunjungi tempat perbelanjaan cek terlebih dahulu jam buka dan tutupnya di Google Maps. Karena banyak toko yang sore sudah tutup.

Sayangnya waktu saya terbatas di Sydney, seminggu disana banyak dihabiskan untuk agenda meet up di kantor Google Sydney dan tidak sempat keluar CBD. Tempat wisata lain yang bisa dikunjungi di luar CBD dan masuk bucket list saya:

  • Blue Mountain. Blue Mountains adalah taman nasional yang masih terjaga. Jaraknya 100 km dari Kota Sydney, bisa ditempuh menggunakan train dari Central Station. Blue mountain ini sangat luas dan ada beberapa tempat yang menarik seperti Katoomba, Leura dan Three Sisters. Bagi pecinta alam akan senang berada disini.
  • Taronga Zoo. Tempat ini adalah kebun binatang yang berada di pulau utara Sydney. Untuk mencapai tempat ini bisa menggunakan Ferry dari Circular Quay. Kebayang nggak sih bisa lihat dan berinteraksi dengan koala dan kangguru, dua binatang asli Australia.
  • Bondi Beach. Walau banyak yang bilang pantainya B aja, dan masih banyak pantai yang lebih indah di Indonesia (ya iyalah negara kepulauan), saya tetep penasaran pengen kesana. Katanya sih pantainya lebih bersih dan terawat. Nah itu dia yang mau saya pelajari, juga fasilitas publiknya.

Kuliner di Sydney

Sydney punya beragam kuliner baik Asian Cuisine maupun Western. Saya tentu saja memilih kuliner halal yang mudah ditemukan di kota ini. Di Australia kalau mau cek resto dan makanan halal bisa lihat di website http://www.halalsquare.com.au Nanti tinggal pilih aja kota mana lalu masukkan nama resto. Dibawah ini beberapa tempat makan yang saya kunjungi:

  • Shalom Indonesia Restaurant. Resto ini lokasinya dekat dengan Town Hall, tinggal jalan sedikit. Pemiliknya orang Surabaya yang tinggal di Sydney. Suasananya Indonesia banget, ada foto Presiden Soekarno juga. Harga makanan disini sekitar AU$15. Saya memesan sate kambing, dan menurut saya rasanya enak sekali, bahkan lebih enak daripada yang di Indonesia (ini nggak ada unsur kangen Indonesianya lho :P). Bukan hanya saya yang berpendapat begitu, dua teman saya yang pesan bebek goreng dan soto betawi juga mengatakan hal yang sama. Resto ini sudah mempunyai sertifikat halal dan buka setiap hari dari jam 11 AM-10 PM.

Di Sydney saya juga bertemu dengan teman yang orang Sydney. Kami bertemu setahun yang lalu di San Francisco. Saat saya ada rencana berkunjung ke Sydney, saya menghubungi dia dan mengajak ketemuan. Saya senang sekali bisa bersilaturahmi dan menjalin persahabatan dengan berbagai orang dari seluruh dunia.

Bersama Penny di Shaloom Indonesian Restauran
  • Mamaks Village. Resto ini berada di Harbourside dan menyajikan masakan Malaysia. Saya memesan ayam bakar dan minuman total habis sekitar AU$25. Rasanya enak, bisa diterimalah sama lidah saya.
Ayam Bakar ala Mamaks Resto
  • Pakwaan Indian. Resto ini juga berlokasi di foodcourt lantai bawah Harbourside. Menyajikan masakan India dan halal. Harganya termasuk murah dengan porsi yang melimpah. Saya pesan ukuran small habis sekitar AU$10
Rice with Curry

Selain masakan-masakan tadi, saya juga mencicipi makanan lain khas Australia seperti:

  • Lamingtons. Saya geli waktu posting makanan ini di IG karena mayoritas teman-teman saya berkomentar ini adalah ongol-ongol, gethuk, dan lain sebagainya. Memang bentuknya mirip sih, apalagi ada balutan kelapa parut yang sepintas cemilan ini Indonesia banget. Padahal sebetulnya ini cake lho! Dan lamingtons ini adalah salah satu icon kuliner Australia.
  • Australian Manuka Honey. Ini adalah madu khas Australia yang mempunyai banyak manfaat dan mengandung antibacterial. Madu ini diproduksi oleh lebah yang hanya mengonsumsi sari dari bunga manuka. Manuka (Leptospermum scoparium) adalah tanaman yang hanya bisa tumbuh di New Zealand dan Australia Selatan. Bunga ini hanya mekar selama beberapa minggu dalam setahun jadi produksi madu yang dihasilkan sangatlah terbatas. Karena itu harganya juga mahal. Saya membeli madu ini ini di UGG Australian Collection, sebuah merchandise store dekat Sydney Opera House. Harganya AU$25 untuk 250 gr.
Australian Manuka Honey

Kapan ke Sydney lagi?

Sydney meninggalkan kesan buat saya. Kota yang bagus, orang-orang yang ramah dan transportasi yang mudah. Rasanya masih pengen eksplore Sydney lagi. Apalagi kemaren saat disana hampir tiap hari diguyur hujan, jadi berasa kurang maksimal.

Bagi temen-teman yang berencana ke Sydney atau Australia, persiapkan diri dengan baik, buatlah itinerary yang cermat. Bisa juga ikut tour dan travel Cheria Holiday. Travel ini punya Paket Halal Tour Australia. Jadi soal ibadah dan makanan sudah tidak perlu pusing-pusing lagi. Info lengkapnya bisa cek di link ini:
https://www.cheria-travel.com/2019/09/wisata-halal-australia.html. Selain ke Sydney bisa sekaligus ke Perth dan Melbourne juga. Lengkap untuk menjelajahi Australia. Saya aja kalo berkesempatan ke Australia pengen menjelajah sampai ke Melbourne dan Perth. Semoga ya! Aamiin…

Travelling bagi saya bukan sekedar jalan-jalan atau foto-foto, tetapi belajar sesuatu yang baru, dengan kota yang baru, mengambil inspirasi terbaik serta menjalin persahabatan antar bangsa.

Jadi kapan kita kemana?

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.